SOEKARNO HATTA DAN SYAHRIR

PENDAHULUAN

Ketiga tokoh ini adalah aktor utama dalam panggung perjalanan Bangsa dan Negara yang kita tempati sekarang ini. Soekarno maupun Hatta dalam pemikiran dan ideologi dapat disebutkan mempunyai persamaan. Dalam bidang politik, Dwi-Tunggal Proklamator ini berbeda. Syahrir sebaliknya memang tidak pernah se-ide sepemikiran ataupun sepolitik dengan Soekarno.

Soekarno yakin betul dengan kekuatan rakyat (matchtsvorming). Sedangkan Syahrir tidak yakin dengan rakyat, melainkan kepada kekuatan elit. Disisi lain Soekarno merasa tidak begitu perlu nge-blok ke salah satu kekuatan dunia, Yakni ke-Barat atau ke-Timur tetapi  Syahrir melihat kemajuan ada di-Barat dan sekian perbedaan prinsipiil yang saling kontradiktip. Dalam artian lain dapat disebut Soekarno Hatta adalah Nasionalis, sedangkan Syahrir adalah Sosialis.

Sampai dimana perbedaan anatara ketiga, khususnya kedua aktor Soekarno dan Syahrir akan menjadi cukup panjang untuk diulas, namun agar tulisan ini dapat disajikan tidaklah mungkin membahas semua itu. Maka demi etika penulisan masalah yang dibahas adalah :

  1. Sampai dimana bahwa pertentangan antara kedua ideologi itu mewarnai pentas politik kita dari dulu hingga saat ini.
  2. Sejauh mana relevansi pemikiran atau ideologi Soekarno bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Untuk menjawab dua masalah diatas, ada baiknya terlebih dahulu ditinjau dari faktor historis, visi politik dan lain-lain pendekatan, agar kesimpulan yang diperoleh kelak dapatlah kita simpulkan.

FAKTOR HISTORIS

Era Tahun 30-an

Pada waktu dibentuknya Partai Nasional Indonesia tahun 1927, Hatta dan Syahrir masih berada di Belanda. Pada tahun 1930 keduanya pulang ke Indonesia dan bergabung dengan P.N.I.. Sewaktu P.N.I. dibubarkan Belanda dan Soekarno masuk penjara, Mr. Sartono mendirikan Partindo. Hatta dan Syahrir mendirikan P.N.I. baru (Pendidikan Nasional Indonesia).

Gaya kepemimpinan Soekarno dengan pemakaiaan kata-kata yang radikal, keras, agitatip dan revolusioner yang konon untuk membangkitkan semangat rakyat tidak dapat diterima oleh Syahrir dan Hatta. Hatta dan Syahrir menekankan pembentukan kader dan kursus-kursus politik. Bagi Soekarno ide demikian itu hanya akan membentuk elitisme yang bergerak tanpa memperhitungkan rakyat.

Era Tahun 40-an

Dalam era ini terjadi beberapa perubahan dalam sentrum-sentrum politik dunia. Militerisme Jepang, Fasisme Mussolini dan Naziisme-nya Hitler mencoba menjadi pemimpin dunia. Apakah karena diilhami konstelasi itu atau faktor-faktor lain, ketiga tokoh kita itu, walaupun berbeda dalam pola-pola politiknya mempunyai tujuan yang sama “Indonesia Merdeka”. Pada saat inilah Soekarno menggelegar dengan pidato-pidatonya yang memang kharismatik itu.

Sesudah Proklamasi seperti kita ketahui bersama Belanda masih terus berupaya untuk berkuasa. Maka untuk mencapai penyelesaian diperlukanlah diplomasi, negosiasi atau perundingan-perundingan. Dalam hal ini Hatta dan Syahrir yang maju kedepan. Kedua figur ini karena mereka mungkin pernah belajar di Belanda maka tepatlah dipilih untuk itu. Namun ada satu catatan disini dimana Syahrir boleh disebut lebih banyak mengalahnya.

Era Tahun 50-an Hingga Sekarang

Militansi Soekarno dan pidato-pidatonya yang berkobar-kobar menggerakkan hati rakyat memang sangat dibutuhkan dalam revolusi. Namun sesudah kemerdekaan tercapai, militansi Soekarno itu dianggap sebagai ancaman terhadap kestabilan negara baru. Soekarno memang menganggap revolusi belum selesai, Irian Barat masih dikuasai Belanda, demikian pula perusahaan-perusahaan besar. Sementara cita-cita kemerdekaan yang dicetuskan pada waktu proklamasi masih jauh, keadaan ekonomi dan sosial masih kacau turut merunyamkan situasi.

Figur-Figur yang mengelilingi Soekarno (elite, establishment) akhirnya mengalami perpecahan. Perpecahan sesama elit tidak dapat lagi dihindari. Yang paling gawat adalah pengunduran diri Hatta selaku Wakil Presiden dari seluruh aktivitas politik karena Soekarno menempuh Demokrasi Terpimpin yang menurut Hatta sendiri tidaklah demokratis lagi.

Perpecahan-perpecahan demi perebutan-perebutan kekuasaan akhirnya menjadi rona kehidupan ber-Bangsa dan ber-Negara. Bagaimana supaya kelak dapat berkuasa tanpa perlu apakah itu demi kebaikan rakyat menjadi ultima ratio. PSI, partainya Syahrir rupa-rupanya menjadi duri dalam daging, menggerakkan kekuatan agar dapat menumbangkan kekuasaan. Hal ini terbukti dari kasus Allen Lawrence Pope yang tertembak dan pemberontakan PRRI dan Permesta. PSI akhirnya dibubarkan Soekarno. PSI mati secara hukum, namun dalam artian fungsional politis masih tetap hidup.

Umur Soekarno akhirnya turut menjadi perhitungan kaum demagog politik. Makin lama, makin banyak orang melihat tanda-tanda ketuaan pada diri Soekarno. Kekuatan-kekuatan diluar Soekarno mulai dipersatukan, dan semuanya bersiap-siap untuk bertindak kalau-kalau terjadi sesuatu dengan Pimpinan Revolusi dan Pimpinan Negara. Semuanya berproses terus dan akhirnya menjadi sebab langsung kejatuhannya. Balon persatuan pecah berkeping-keping dalam tahun 1965. Soekarno insyaf bahwa dia hanya seorang diri.

VISI POLITIK

Ruslan Abdulgani melihat bahwa 10 tahun terakhir masa jabatannya Bung Karno telah ditinggalkan sebagian Golongan Islam, Para Intelektual Sosialis Kanan dan Pimpinan Militer yang semua berorientasi ke-Barat.

Dari uraian Ruslan Abdulgani ini dapatlah kita simpulkan bahwa dari tiga kekuatan tersebut yang dominan adalah Soska-nya. Soska sebagai warisan Syahrir begitu gandrung dengan Barat, kemajuan seakan-akan hanyalah Barat. Masalah Islam akhirnya berorientasi ke-Barat, hal ini cenderung terjadi karena Islam tidak pernah berkesesuaian dengan Komunis. Ketimbang Soviet yang atheis mendingan Barat saja. Sementara kalau militer juga memilih Barat adalah akibat infiltrasi atau penetrasi yang dijalankan Amerika Serikat dengan agen-agennya. Dan perlu juga diketahui bahwa dari Dulu Soekarno memang agak jauh dari militer. Bacalah semua pidato-pidato Soekarno hampir tidak ada yang menyinggung militer.

Nasakom yang ditempuh Soekarno pada era Ia berkuasa menurut Mochtar Lubis adalah konsep paling kacau. Sedangkan menurut Ruslan Abdulgani Nasakom hanyalah sebuah gagasan taktis menasionalisasikan komunis Indonesia. Rosihan Anwar sebaliknya melihat bahwa walaupun Soekarno menempuh Nasakom bukan berarti dia “kiri”, melainkan hanya mencari pendukung atau sebagai senjata agar ia tetap mampu menguasai keadaan politik pada waktu itu. Disisi lain perlu juga dipertanyakan bukankah Nasakom itu buah pikiran Soekarno pada era sebelum merdeka?, yang kemudian hendak diterapkan kembali. Apapun kata mereka yang jelas konsep tersebut menjadi kontroversial.

Tentang kekontroversialan ini dapatlah dinyatakan bahwa Soekarno mencoba menyatukan aliran-aliran politik yang kontradiktip kedalam berbagai rumusan. Mencoba menyatukan idealisme (das sollen) dan realisme (das sein), yang akibatnya tidak diterima sepenuh hati (pura-pura). Apakah mungkin air dan minyak bisa bersatu?.

Selanjutnya, celakanya aneka pemikiran yang akan dijadikan satu oleh Soekarno, dapat diinterpretasikan menurut keinginan orang atau golongan yang ingin memanfaatkannya. Karena Soekarno juga berfikir dengan sentuhan Marxisme, maka demi kepentingan politik mereka orang-orang yang komunis langsung beranggapan bahwa Soekarno juga komunis, sedemikian pula Golongan Islam, Nasionalis dan lain-lainnya.

Demokrasi terpimpin, pengangkatan presiden seumur hidup dan lain-lainnya itu mendudukkan Soekarno sebagai politikus ulung, yang mana hal tersebut mengangkat sekaligus menjatuhkannya. Siapakah yang benar?. Dalam politik tiada yang benar, yang ada adalah power.

IDEOLOGI ORDE BARU

Setelah Soekarno jatuh dari panggung kekuasaannya, terpilihlah Jenderal Soeharto kepermukaan atmosfir perpolitikan Indonesia. Menurut Kwik Kian Gie, Presiden Soeharto mempunyai keberanian dan wisdom untuk mendelegasikan kekuasaannya kepada ABRI disatu pihak yang harus menjaga stabilitas dan keamanan, dan dilain pihak delegation of authority yang tidak tanggung-tanggung telah diberikan kepada kelompok teknokrat, yang juga dikenal dengan nama julukan “Berkeley Mafia” untuk mempraktekkan pengetahuan kedalam kebijaksanaan-kebijaksanaan pembangunan yang konkrit dan operasional.

Kelompok teknokrat yang disebut oleh Kwin Kian Gie, oleh Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo diinisialkan dengan sebutan “Birokrat dan Ekonom”. Jadi jelasnya menurut Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo  dalil pembangunan Orde Baru adalah ABRI sebagai penjaga keamanan, birokrat sebagai pelaksana dan Ekonom sebagai decision maker (pengambil keputusan).

Yang menarik dari kedua tokoh ini adalah perkataan seperti, teknokrat, birokrat, ekonom dan mafia Berkeley. Bukankah ini ditunjukan kepada oknum-oknum yang berada dalam study club di California dengan tokoh utamanya Soemitro Djojohadikusumo?. Jawabannya sudah pasti demikian. Soemitro Djojohadikusumo seperti kita ketahui adalah mantan PSI, yang meminjam istilah Ruslan Abdulgani adalah Sosialis Kanan, seorang Sosialis Kanan seperti Syahrir juga.

Soemitro Djojohadikusumo dengan murid-muridnya, Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Subroto, Sadli, Emil Salim dan lain-lain dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia mendapat kesempatan merumuskan berhala baru yakni “Pembangunan, development dengan titik utama dibidang ekonomi yang menggantikan berhala revolusinya Soekarno”. Perubahan jargon-jargon yang kalau dulu ada sebutan politik sebagai panglima, maka sekarang politik “no”, ekonomi “yes”.

Pembangunan berbagai ideologi Orde Baru kalau kita lihat dari tahapan-tahapannya hingga pelaksanaan dilapangan, percislah seperti apa yang digembar-gemborkan Syahrir sewaktu ia masih hidup. Kalau kita ingin maju maka kita harus menoleh ke-Barat, jangan menjadi nasionalis sempit, melainkan universal, demikianlah selalu ucapan Syahrir, yang saat ini masih tetap berkumandang.

Sudah sejauh mana keberhasilan kita dalam pembangunan kiranya bukanlah tujuan yang kita bahas, namun satu catatan penting bahwa sejak akhir dekade 70-an atau awal 80-an, Pemerintah dengan berat hati tidak lagi mempunyai spending power untuk bisa menjadi lokomotip pembangunan. Maka lokomotip pembangunan diserahkan kepada masyarakat. Apa yang dapat kita perbuat dalam suasana demikian?. Bukankah sudah waktunya kita angkat pemikiran-pemikiran Soekarno?. Untuk ini marilah sama-sama kita renungkan.

PENUTUP

Setelah berputar-putar, baik melalui pendekatan historis, visi politik hingga ideologi Orde Baru, maka dapatlah ditarik beberapa kesimpulan dan catatan sebagai berikut :

Kesimpulan :

  1. Perjalanan Bangsa dan Negara yang kita cintai ini diwarnai dua ideologi yang satu sama lain bertolakbelakang. Orde Lama oleh Soekarno dan Hatta, Orde Baru oleh para pengikut Syahrir.
  2. Melihat perkembangan pembangunan yang dilakukan penguasa Orde Baru (Model Rostow), hingga dekade ini sudah selayaknya konsepsi atau pemikiran Soekarno dikedepankan sebagai alternatip.

Catatan :

  1. Yang menyolok mengenai Soekarno adalah bahwa Dia berdiri sendirian, tidak dikelilingi oleh kawan-kawan seperjuangan yang sebanding. Dalam artian lain Soekarno hanya memiliki sekutu-sekutu, fraksi-fraksi, teman atau pengikut serta para pengagum yang  bukannya partner. Hal yang berbalikan dengan Syahrir.
  2. Persepsi tentang Soekarno belumlah tuntas. Ada yang menyebut Beliau debagai mitos sekaligus realitas. Bernhard Dahm melihat Soekarno tidak lain daripada seorang tokoh dalam tradisi ratu adil di Indonesia yang untuk sementara dapat menghipnotis masyarakat.

Demikianlah smua ini telah disampaikan, berkesimpulan dan beberapa catatan yang mana pemikiran ekonomi dan ideologi Soekarno akan kita ulas lebih jauh dalam tulisan-tulisan berikutnya.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s