PENGHIANATAN GMNI TERHADAP MARHAENISME

PENGANTAR

Sejarah mencatat bagaimana penghianatan demi penghianatan telah merajam Ibu Pertiwi. Mengoyak-ngoyak bendera ideologi dengan alasan eksistensi dan duniawi, menjadikan mereka-mereka sebagai pelacur ideologis yang sampai akhir jaman akan menistakan dirinya dan Indonesia. Setelah PNI sebagai basis Marhaenisme menistakan dirinya dengan mangganti azas partai Marhaenisme, maka GMNI dikemudian hari kembali menjadi pelacur ideologis dengan mengginjak-injak azas yang menjadi dasar perjuangannya, azas yang menjadi dasar kelahirannya, azas yang menjadi saripati perjuangannya, Marhaenisme!.

Mencoba menelisik kembali Kongres GMNI ke-VIII yang berlangsung di Lembang Bandung pada tahun 1983. Kongres ini memang telah lama usai, tetapi membekaskan sebuah ingatan yang tidak akan pernah terlupakan di benak para Mahasiswa/i Marhaen dan Marhaenis. Ditinjau dari segi intern Kongres tersebut telah menjadi suatu prosesi seremonial penguburan Marhaenisme yang telah menjadi Nilai-Nilai Dasar Perjuangan GMNI sejak awal terbentuknya, dan bila kita lihat dari segi ekstern merupakan tindakan yang pertama kali terjadi dalam satu Ormas Generasi Muda dalam penyesuain azas, yang justru merupakan suatu tindakan yang tidak akan pernah mendapat tempat dalam benak para pemimpin generasi muda. Presidium berkata bahwa tindakan itu adalah suatu kepeloporan – tetapi GMNI Jaya berteriak bahwa itu adalah penghianatan, dimana sebuah azas ideologi telah menjadi bahan komoditi.

Sehubungan dengan itu, guna melihat dari dekat, dengan sorotan yang jauh menukik kedalam, berikut ini kami sajikan kronologis singkat Kongres GMNI ke-VIII tersebut .

Kongres ke-VIII GMNI harus terselenggara … dan azas organisasi mesti dirubah, apa pun yang jadi resikonya. Kalau perlu, menyimpang dari aturan dan tradisi yang berlangsung selama ini, atau tak segan-segan Presidium (Kelompok Tebet) akan main kayu“, demikian ditegaskan oleh Heru Darmanto, salah seorang pembantu operasi Kelompok Tebet untuk wilayah Jawa Timur (Surabaya) pada salah seorang penentang di Jawa Timur dalam rangka persiapan untuk memuluskan perubahan azas GMNI. Apa yang dinyatakan oleh Heru Darmanto alias Nobon alias Gimo ini kemudian terbukti menjadi kenyataan. Kongres ke-VIII GMNI diselenggarakan dan betapapun mendapat tantangan seru, Marhaenisme akhirnya dirubah, kembali dikhianati!.

Tentang apa yang jadi inti maksud penyelenggaraan yang ada dibalik itu semua, kiranya bukan rahasia lagi bagi khalayak ramai, sebab sesungguhnya terselubung didalamnya suatu perpaduan kepentingan antara dua kubu kelompok yang selama ini telah hadir sebagai induk semang bagi orang-orang presidium itu, yakni Kubu Kiri Baru (lazimnya dikenal sebagai kubu Kartjono, Suko Sudarso dan kawan-kawan) dan Kubu Birokrasi yang diwakili dengan simbol figur Soetrisno SH dan Soekarton.

Kongres beserta perubahan azas ini penting badi Kubu Kiri Baru (Kartjono CS) sebab dengan demikian ia bisa melakukan penghapusan jejak yakni lewat suatu sikap loyal semu terhadap kekuasaan; dan bagi Kubu Birokrasi ini juga penting sebab dengan demikian mereka memperoleh suatu etalase permanen keberhasilan dan loyalitas dalam prototype prilaku para abdi/hamba kawula, sebagaimana lazimnya ditemui pada masyarakat feodal Jawa di jaman kolonial.

Kedua kubu kepentingan inilah yang telah menyatu dalam tindakan, dan itu berwujud dalam proyek “Kongres ke-VIII GMNI”, yang konon telah menelan biaya ratusan juta rupiah (baik untuk kongresnya, maupun dalam upaya persiapan perubahan azas), walaupun Lukman Hakim AS, dalam pernyataannya pada Media Massa mencoba memberikan kesan yang berbeda.

DELEGASI/PESERTA MELEWATI 4 KALI PROSES PENYARINGAN

Nampaknya keinginan untuk meng-gol-kan keputusan perubahan azas adalah merupakan sasaran/target utama dari kelompok tersebut dalam Kongres ini, dan oleh sebab itu tidak mengherankan kalau pencapaian tujuan itu yang kemudian menjadi warna dasar yang dominan dalam tindakan para penyelenggaranya, yang kadang kala dinilai oleh berbagai pihak sangat berlebihan. Misalnya saja,  untuk menghindari kemungkinan masuknya utusan cabang-cabang dan tokoh-tokoh yang diperkirakan akan tampil sebagai suara penentang dalam forum tersebut, maka Panitia telah diberlakukan 4 kali proses penyaringan peserta sebelum masuk kedalam lokasi, dan serangkaiaan intimidasi/penekanan terhadap para Delegasi tersebut.

Proses penyaringan pertama :

Proses penyaringan pertama dilakukan diterminal/tempat pangkalan kenderaan dari luar kota, yang bakal jadi tempat pertama bagi para peserta menginjakkan kakinya di kota Bandung, yakni dengan menerapkan suatu sistem jemputan, dimana para anggota Panitia yang bertugas sebagai penjemput telah dibekali dengan suatu daftar yang memuat nama-nama figur yang harus dicegah kehadirannya. Mereka yang namanya tercantum dalam daftar jangan harap dapat ikut dalam kenderaan jemputan, karena anggota Panitia yang menjadi penjemput (yang umumnya bukan Mahasiswa) dengan berbagai cara, termasuk dengan kekerasan akan berupaya agar mereka dapat ditinggalkan begitu saja di-terminal/stasiun.

Lokasi penyelenggaraan kongres (Grand Hotel), dirahasiakan bagi peserta, guna mencegah kemungkinan lolosnya para peserta tanpa melewati gerbang saringan tersebut.

Proses penyaringan ke-dua :

Penyaringan ke-dua dilakukan di Sekretariat GMNI Cabang Bandung, Jalan Purnawarman No. 15 Pav. Bandung (dimana peserta dari terminal dibawa ketempat ini). Ditempat inilah penekanan terhadap peserta guna keperluan penandatanganan suatu blanko kosong yang tidak jelas manfaatnya (yang kemudian baru diketahui bahwa blanko kosong tersebut, nantinya akan dijadikan lembaran pernyataan masing-masing cabang guna perubahan azas). Disinilah ketegangan mulai berawal, karena banyak Delegasi yang menolak bila tidak ada jaminan penjelasan yang jelas bahwa tanda-tangan itu tidak akan disalah-gunakan. Bagi mereka yang menanda-tangani dengan tidak banyak komentar, langsung mendapat pelayanan jemputan untuk dibawa ke Grand Hotel, sedangkan bagi yang masih banyak rewel tindakan intimidasi sudah mulai dijalankan guna penjinakan peserta, dengan beraneka bentuknya (untuk yang garis geras seperti Jakarta, secara keras ditolak, sedangkan bagi yang agak lembut, mendapat jemputan khusus untuk masuk ke karantina, dalam kondisi ter-isolasi dari dunia luar). Ditempat inilah, pihak Panitia mulai mengalami kesulitan dalam menghadapi Delegasi GMNI Jaya, karena ancaman yang dilakukan oleh panitia dalam bentuk intimidasi dan teror psikologis, ternyata mendapat pukulan balik dari para Delegasi yang juga mengancam akan mendatangkan kekuatan cadangan yang sedang siaga di sekitar tempat tersebut (Delegasi GMNI Jaya, karena terlalu lama bersitegang urat dengan panitia, akhirnya memutuskan untuk datang/mencari sendiri lokasi kongres, dan ini kemudian telah membuat panik pihak keamanan panitia Grand Hotel dan para Kelompok Tebet sebab kehadirannya tidak diduga sebelumnya.

Proses penyaringan ke-tiga :

Penyaringan ke-tiga yang harus dialami oleh para peserta adalah sebelum masuk Grand Hotel, ialah di pintu gerbang hotel itu sendiri. Disini pihak panitia mulai mengalami kebingungan karena agak sulit membedakan mana yang Delegasi dan mana-pula yang datang dari Media Massa/Wartawan. Pada para Delegasi mereka berani melakukan intimidasi kekerasan, tetapi mereka sangat takut terjadi salah sasaran terutama pada orang pers.

Wartawan Majalah Fokus Rahadi Zakaria termasuk yang sempat jadi korban salah sasaran, namun kuatir hal ini akan dipublisir dan dapat mengundang aksi solidaritas para jurnalis yang sedang meliput acara itu, maka dari pihak Panitia antara lain Lukman, Kristiya dan Wantoro kemudian mendatangi saudara Rahadi Zakaria, dan membujuknya untuk tidak menyampaikan peristiwa tersebut pada rekannya yang lain. Dengan tidakan panitia yang bertugas di gerbang ini yang berlebihan terutama dalam menghadapi Delegasi GMNI Jaya, telah mengarah kepada tingkat ketegangan fisik antara fihak panitia dan Delegasi Cabang-Cabang yang kena klasifikasi “tidak boleh masuk”, dimana para Delegasi tersebut kemudian berhasil mendobrak palang penghalang yang bertuliskan larangan itu.

Berdasarkan pengamatan, bahwa ternyata yang tidak senang dengan tindakan para kaki-tangan Kelompok Tebet itu, tidak hanya para Delegasi yang telah lulus “sensor”, tetapi juga Warga Marsyarakat yang ada disekitar Grand Hotel, sebab guna mencegah kemungkinan terjadi penyusupan kaki tangan Kelompok Tebet itu juga melarang warga sekitar untuk memasuki areal Grand Hotel, padahal kolam renang yang ada didalam areal tersebut bebas digunakan oleh warga sekitarnya, dan secara tetap dipergunakan juga untuk tempat latihan bagi Lembaga Pendidikan Atas yang ada di kawasan Lembang (namun karena yang terpampang disitu adalah lambang GMNI, maka mereka tidak sampai hati untuk melakukan bentrokan fisik, sebab bagi mereka GMNI pasti ada pertautannya dengan Bung Karno, yang merupakan Bapak Kaum Marhaen).

Proses penyaringan ke-empat :

Penyaringan ke-empat dijalankan didalam areal hotel itu sendiri, baik diruangan pertemuan umum, maupun dari kamar-kekamar. Caranya pun lebih halus lagi yakni dengan teknik pancingan sedemikian rupa mereka mencoba memancing apa yang kira-kira bakal disuarakan oleh para peserta itu. Bagi mereka yang masih mau bicara tentang Marhaenisme, dikenakan ancaman untuk dikeluarkan dari dalam lokasi, yang diawali dengan serangkaian ancaman/intimidasi/teror misalnya, interogasi mendadak (peserta dibangunkan dari tidurnya dan kemudian dilakukan investigasi), yang dalam kegiatan interogasi ini, Lukman dan Kristiya sering-sering membawa nama aparat keamanan negara.

Inilah empat proses pembersihan terhadap para delegasi yang dilancarkan oleh pihak penyelenggara (kaki-tangan Kelompok Tebet), demi lancarnya prosesi penguburan Marhaenisme dari semua kamus pergerakan GMNI, dan tentunya masih banyak serangkaian bentuk intimidasi yang dilakukan terhadap para peserta.

80% PANITIA KONGRES KE-VIII GMNI BUKAN GMNI DAN BUKAN MAHASISWA

Cukup menarik penyelenggaraan Kongres ke-VIII GMNI ini, sebab baru pertama kali terjadi sepanjang sejarah kehidupan GMNI, dimana 80% personil Panitianya terdiri dari orang-orang bukan anggota GMNI dan bukan Mahasiswa.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan terhadap personil panitia ini, unsur non-GMNI itu terdiri dari dua kelompok yakni, Kelompok Pemuda Pasar dan Kelompok Kaum Birokrat. Reporter yang melakukan monitor didalam  areal melaporkan bahwa, dalam suatu kesempatan dialog dengan Panitia bagian keamanan, sang anggota Panitia yang tidak pernah menduduki bangku pendidikan menengah atas itu dengan polos menjelaskan bahwa ia benar-benar tidak tahu dengan apa yang sedang ia kawal. Kehadirannya disitu adalah dalam rangka permintaan pak Lukman yakni dengan imbalan setiap orang mendapat Rp. 25.000,-/hari.

Dalam komposisi personil ini, nampaknya selain terdiri dari mereka yang berdomisili di Bandung, juga dalam jumlah besar sengaja didatangkan dari Surabaya atas permintaan Sudarjanto. Mungkin ini bertolak dari pengalaman di Yogyakarta dimana para pengawal pribadinya sempat dibuat tidak berkutik oleh para anggota satgas GMNI Jaya, ketika masih berada di Gondomanan (belum sampai lokasi pra-kongres di Yogyakarta). Anggota reporter yang kebetulan masih termasuk “Arek Suroboyo” menjelaskan, bahwa diantara orang-orang yang diaktifkan oleh Sudarjanto dalam panitia, beberapa diantaranya dikenal sebagai calo, yang sering bergentayangan di-stasiun Pasar Turi.

Kemungkinan ini adalah salah satu hasil dari Konsepsi Paradigma Baru yang dijalankan oleh Kelompok Tebet yang diantaranya adalah kegiatan pembinaan/pemanfaatan para calo guna kepentingan politik.

Ketika para petugas panitia yang merupakan dari Kelompok Pemuda Pasar ini berhadapan dengan figur-figur yang kena black-list, mereka sempat menjadi bingung karena kenyataan yang mereka hadapi ternyata berbeda jauh sekali dengan gambaran yang diberikan oleh Lukman dan Kristiya. Dalam pengarahannya, kedua anggota Predisium yang jadi manager proyek itu telah menggambarkan pada para panitia bahwa yang bakal mereka hadapi dalam pengamanan itu adalah para bajingan yang akan menimbulkan keonaran, namun ketika mereka berhadapan dengan orang-orang yang digambarkan tadi mereka-pun menjadi ragu-ragu sebab yang dihadapi ternyata orangnya cukup intelek dan sopan. Lain lagi dengan penampilan Panitia Pemuda Pasar, maka yang termasuk dalam Kelompok Birokrasi kelihatannya lebih halus lagi permainannya. Mereka umumnya bertugas sebagai pendeteksi pendapat peserta sekaligus intimidator, yang setiap saat siap hadir dimana ada kerumunan peserta, dan untuk hal-hal tertentu mereka mendatangi perserta dikamarnya masing-masing. Umumnya mereka membawa alat perekam dan memiliki tonjolan aneh dibalik baju dibagian pinggang.

Meskipun gaya yang mereka bawakan relatif lebih halus, namun dengan sejumlah alat yang mereka bawa itu, kiranya sudah cukup untuk dijadikan sebagai wujud teror mental terhadap para peserta/delegasi. Apalagi bila saat tidur telah tiba, alat rekam itu tetap mereka tinggalkan di kamar tidur masing-masing peserta dalam posisi tombol “on”.

Dengan struktur panitia yang demikian, kiranya adalah sangat cukup untuk menciptakan suasana yang mencekam tegang pada diri masing-masing peserta, sehingga beberapa peserta menggambarkan suasana kongres itu sebagai neraka dalam 4 hari. Hari kedua setelah peserta memasuki areal kongres, mulai banyak yang jatuh sakit (mungkin akibat depresi mental), bahkan ada beberapa diantaranya mulai melakukan doa bersama. Mereka yang kebetulan sempat membawa Kitab-Suci, terpaksa mulai membuka lembaran Kitab-Suci tersebut guna mencari ketenangan bathin, dan itu pun dilakukan didalam kamar dengan penuh hati-hati, sebab bahkan Kitab-Suci pun mulai dicurigai oleh pihak panitia, jangan-jangan didalamnya terselip selebaran yang isinya bertentangan dengan tujuan pihak Kelompok Tebet ini.

Sungguh suatu fantastic, dalam penjagaan yang begitu berlapis tiga, dengan anggaran biaya special, ternyata masih mampu diterobos oleh satuan tugas gabungan antar cabang, yang dibawah koordinasi operasi GMNI Jaya, yang berlangsung secara mendadak serempak, meskipun hanya berlangsung selama 5 menit. Kelengahan pihak keamanan panitia yang disebabkan karena cuaca sedang hujan lebat, telah dimanfaatkan oleh pihak satgas untuk melakukan aksi serempak itu, sempat membuat kalang kabutnya Lukman dan Kristiya, sebab bila berlangsung lama dan dapat terpublisir, kemungkinan akan dapat mempengaruhi proses perijinan yang saat itu belum selesai.

Akibatnya, antara Lukman dan Kristiya sempat tuding menuding dan saling lempar tanggungjawab. Ketika aksi dijalankan, pihak keamanan yang rata-rata bertubuh kekar nampaknya tak dapat berbuat apa-apa, yang mereka lakukan hanyalah mencoba menghubungi bantuan tenaga pengamanan lewat Handy-Talkie, dan beberapa orang mencoba menghubungi pos keamanan negara yang memang ada didekat Grand Hotel. Cuma menghindari terjadinya bentrokan dengan keamanan negara, maka setelah menguasai lokasi selama 5 menit, SatGasGab itu ditarik mundur, dan secepatnya pula pimpinan panitia melakukan usaha guna menetralisir suasana yang mulai panik, antara lain mendatangkan lebih banyak lagi keamanan dari pihak Kelompok Pemuda Pasar, dan mewajibkan para petugas keamanan panitia tetap siaga penuh di pintu-pintu masuk, meskipun diguyur oleh hujan yang cukup lebat.

Salah satu sasaran aksi ini memang tidak tercapai, yakni untuk membawa keluar lokasi para anggota Presidium Kelompok Tebet (sebab saat itu sedang berada diluar lokasi atau sebagian di Bandung dan yang lain di Jakarta), namun sasaran yang lain, yaitu untuk mempengaruhi perijinan nampaknya terpenuhi.

Dampak dari kejadian “5 menit di Grand Hotel”, telah membuat perijinan harus tertunda dua hari lagi, dan Soetrisno dan Soekarton terpaksa harus mengirimkan utusan khususnya (Muchyar Jara alias Yari dan Iskandar) untuk menghubungi DPC GMNI Jaya yang saat itu telah berada di pos kumpul II (50 meter dari Grand Hotel), dengan membawa sejumlah tawaran guna melunakkan pendirian GMNI Jaya dan Cabang-Cabang lain yakni antara lain, jaminan dari Soetrisno dan Soekarton bagi GMNI Jaya, untuk dapat hadir sebagai salah satu peserta dengan keistimewaan tertentu selama kongres. Tawaran ini masih bisa dinaikkan lagi yakni jaminan untuk menjadikan GMNI Jaya sebagai salah satu anggota Formatur dalam penyusunan Pimpinan Pusat GMNI kelak.

Tawaran tersebut, ditolak mentah-mentah oleh para anggota yang siaga di pos kumpul II (Jakarta & Malang), sebab persoalannya bukan masalah jadi peserta atau tidak, begitu pula bukan jadi Formatur/Presidium atau tidak, tetapi adalah menyangkut hal yang prinsipil yakni seperti yang telah diberitakan oleh Majalah Fokus dalam dua kali penerbitannya.

Sebetulnya, apa yang disebut forum kongres itu sendiri, tinggal suatu formalitas  sebab apa yang bakal jadi keputusan itu sudah dipersiapkan oleh wakil-wakil dua kubu kepentingan diatas, disebuah hotel mewah di kota Bandung.

Persiapan hasil-hasil kongres di hotel ini, tinggal pematangan saja, sebab sebelumnya telah dilakukan pertemuan pula antara dua kubu kepentingan itu disuatu rumah yang terletak diakawasan Husein Sastranegara, yang menurut informasi penetapan lokasi tersebut atas prakarsa Kubu Birokrasi. Yang anehnya, keputusan yang bakal mengikat GMNI ini, justru tidak dilakukan oleh pertemuan yang dialamnya melibatkan para pemimpin GMNI, sebab yang hadir disitu hanya beberapa orang anggota Presidium Kelompok Tebet.

Keputusan yang disusun oleh kepentingan diluar GMNI inilah, yang kemudian dipaksakan untuk disahkan oleh para pimpinan GMNI dalam forum kongres. Guna memberikan kesan bahwa seolah-olah keputusan tersebut diterima secara aklamasi, maka disiapkan suatu gerakan tepuk tangan yang bakal dijalankan oleh para kaki-tangan Kelompok Tebet yang terlibat sebagai panitia.

Gerakan tepuk tangan ini memang cukup ampuh guna mengelabui pihak luar, hal ini nampak jelas ketika pembacaan teks keputusan yang telah tersusun, dimana para delegasi diam membisu seribu bahasa, gerakan tepuk tangan itu mampu memeriahkan suasana. Agaknya, sebelumnya telah dilakukan gladi resik terlebih dahulu.

Yang lebih aneh lagi, dalam keputusan perubahan azas, itu tidak dilakukan lewat suatu persidangan sebagaimana layaknya pada suatu lembaga kongres, tetapi dengan menggunakan acara pengarahan yang kemudian dimanipulir sebagai acara pengambilan keputusan. Darjatmo nampaknya telah siap untuk itu, cukup hanya membacakan keputusan yang tersusun yang kemudian diakhiri dengan ketukan palu (untuk pengesahannya, sebelumnya tidak pernah diminta pendapat para delegasi).

Akibatnya, banyak delegasi yang semula merencanakan akan mengeluarkan sisa-sisa keberaniannya untuk bersuara dalam masalah azas ini telah dibuat tak berkutik dalam tingkat awal. Sungguh tragis nasib mereka. Dari wajah mereka tak adapun seberkas kecerahan yang tergambar sebagaimana lazimnya pada forum-forum yang sama sebelumnya. Hanyalah guratan rasa kecewa yang kadangkala terpadu dengan genangan titik air dipelupuk mata, itulah yang menjadi situasi dominan disaat ketukan palu eksekusi terhadap Marhaenisme dilakukan.

Mungkin saat ini bathin mereka menjadi sarat dengan sejuta penyesalan karena ketidak-jeliannya mereka telah terperangkap dalam suatu sistem penghianatan yang telah mengikat diri mereka. Secara fisik, mereka terjebak dalam suatu areal yang penuh teror dan intimidasi, dan secara formil mereka telah ikut terjebak dalam daftar hadir, dimana tanda-tangan mereka itu akan ikut menjadi saksi sejarah, akan keikut-sertaan mereka dalam sebuah prosesi Penguburan Marhaenisme dari bumi GMNI.

Mungkin didalam hati ingin menjerit sekuat tenaga, agar dapat mengikuti langkah yang dilakukan rekan mereka dari 4 cabang yang lain, yang memang tidak mau ikut dalam acara yang penuh dengan dosa sejarah itu, tapi … yah, nasi telah menjadi bubur.

4 CABANG PEKA MENILAI TAKTIK KELOMPOK TEBET DAN 1 CABANG LAGI PROTES

Berbeda dengan cabang-cabang lain yang agaknya telah kena ilmu sirep dari Kelompok Tebet sehingga mau diperlakukan apa saja, ternyata ada empat cabang yang punya kepekaan tinggi sehingga mampu membaca taktik yang bakal dijalankan oleh Kelompok Tebet, dan agar tidak terperdaya mereka memutuskan untuk lebih baik tidak ikut Kongres saja. Ke-empat Cabang tersebut ialah, Cabang Jakarta, Cabang Purwokerto, Cabang Tabanan dan Cabang Denpasar. Sedangkan satu Cabang yang tidak mampu menahan emosinya lagi disaat terjadi perubahan azas,dan kemudian protes dengan jalan meninggalkan Kongres adalah Cabang Palembang. GMNI Cabang Malang, hadir di Bandung dengan formasi dua delegasi, yakni satu delegasi yang mewakili suara basis-basis, dan satu delegasi lagi adalah hasil bentukan Kelompok Tebet yang terdiri dari para kaki-tangan mereka. Delegasi yang mewakili suara basis (arus bawah) itulah yang hingga Kongres usai, tetap tidak diperbolehkan masuk.

Yang tidak hadir, tetapi tidak memberikan keterangan apa-apa, tercatat dari Cabang GMNI di-Aceh.

YANG DELEGASI DAN YANG ORMAS LAIN

Meskipun dalam AD/ART GMNI melarang anggotanya melakukan rangkap keanggotaan dengan Organisasi lain, namun dalam Kongres ke-VIII ini cabang-cabang umumnya diwakili oleh figur hasil tunjukan Kelompok Tebet, yang justru terbesar adalah merangkap anggota/pengurus Organisasi lain.

Mereka itu antara lain :

  • Togap Silitonga, d.k.k. (Medan-KNPI/Pemuda Demokrat);
  • Timbul, Rahmat Ilahi (Bandung-KNPI/Pemuda Demokrat);
  • Uun Subarna, d.k.k. (KNPI/Pemuda Demokrat/Partai Demokrasi Indonesia);
  • Harry Wol (Jember-KNPI/Pemuda Demokrat);
  • Raphael, d.k.k. (Surabaya-KNPI/Pemuda Demokrat);
  • Nyoman Wibnanu (Singaraja-Korpri/Pemuda Demokrat);
  • Suparlan (Lampung-KNPI/Pemuda Demokrat);
  • Dan sejumlah aktivis lainnya.

Dan kemudian mereka yang merangkap karyawan pada perusahaan Lukman Hakim AS, yang kemudian mendapat tugas dari perusahaan untuk membentuk Cabang-Cabang baru GMNI dan duduk sebagai delegasi (umumnya anggota GMNI Bandung) tercatat adalah :

  • Suhendar (Banjarmasin);
  • Rahmat Ilahi (Bandung);
  • Nyoman Wibnanu (Singaraja-Swasta/Korpri).

KELOMPOK TEBET GAGAL MEMECAH BELAH GMNI JAYA

Nampaknya, Presidium Kelompok Tebet ini cukup kewalahan dalam menghadapi ulah anak-anak GMNI Jaya. Lewat pemberitaannya yang dilakukan lewat pers, Lukman Hakim AS telah menyebarkan berita bohong, yaitu seolah-olah GMNI Jaya mengalami perpecahan (dua delegasi). Berita itu tidak benar, sebab hingga terakhir GMNI Jaya tetap satu formasi delegasi.

Memang semula, terdapat niat dengan mencoba mendorong Gelora Tarigan, wakil ketua DPC GMNI Jaya untuk membentuk delegasi tandingan, tetapi itu ditolah oleh Gelora Tarigan. Kemudian Lukman Hakim AS mencoba membentuk delegasi bohong-bohongan yang terdiri dari beberapa staf SekJen, ditambah dengan beberapa aktivis GMNI Jaya itupun juga gagal, sebaba nampaknya para staf SekJen tidak punya cukup keberanian untuk itu, dan para aktivis sudah satu tekad untuk tidak mau terlibat dalam acara perobahan azas ini.

Beberapa aktivis antaranya melaporkan, bahwa mereka telah dihubungi oleh Kristiya dan Lukman untuk duduk dalam delegasi GMNI Jaya, tetapi mereka tetap tidak mau, meskipun dijanjikan akan diberi uang honor sebesar Rp. 50.000,-/orang setiap hari.

LUKMAN SEMPAT NGAMBEK

Ketika masalah perijinan belum juga memperlihatkan tanda-tanda akan selesai, sedangkan waktu sudah terulur cukup lama, dimana sebagian besar peserta mulai gelisah, petugas keamanan panitia mulai jenuh dan diserang flu, Lukman Hakim AS yang konon telah mendapat janji untuk suatu proyek jutaan rupiah di Kalimantan (HPH?), nampaknya mulai gelisah. Rasa gelisah ini kian bertambah terutama dengan tersiarnya desas-desus, bahwa GMNI Jaya, dengan satuan gabungan cabang-cabang akan mengulangi lagi serangan umumnya dengan kekuatan yang lebih besar lagi.

Dengan wajah yang hampir menangis, Lukman memelas pada pihak yang berwenang, agar perijinan segera dikeluarkan. “Kalau bapak tidak mengeluarkan ijin, berarti bapak yang anti Pancasila, sebab kami mau kongres ini justru ingin merubah azas GMNI jadi Pancasila“, demikian kata Lukman pada sang pejabat itu.

FOTOCOPY MAJALAH “FOKUS” DAN CABANG AMBON BIKIN GEGER ARENA KONGRES

Suasana yang sepi hening mencekam, tiba-tiba berubah menjadi hingar-bingar. Para anggota Presidium Kelompok Tebet dan Panitia nampaknya hilir mudik mencai sesuatu, dan memang benar yang mereka cari adalah lembaran-lembaran fotocopy majalah Fokus yang memuat pernyataan sikap DPC GMNI Jaya yang sempat beredar di dalam arena tanpa SIT dari Panitia/Kelompok Tebet. Yang mereka kuatirkan dengan beredarnya fotocopy, akan menumbuhkan semangat baru dari para Delegasi yang sedang dilanda ketakutan dalam camp isolasi ini.

Semua pengusutan tidak berjalan lancar dan terpaksa dilanjutkan dengan penggeledahan tiap kamar yang dipimpin langsung oleh Uun Subarna, Komandan Keamanan Panitia. Setelah dilancarkan lagi serangkaian intimidasi dan teror, baru diketahui kalau yang jadi biang keladinya adalah salah seorang anggota Delegasi dari Manado, karena keisengannya telah membawa lembaran kertas yang sangat ditakuti itu.

Lain lagi cerita tentang rekan yang Nyong Ambon ini. GMNI Cabang Ambon adalah merupakan cabang paling baru, dan oleh sebab itu ia dianggap untuk tak perlu digarap; dan akibatnya didalam arena (karena ketidaktahuannya) rekan yang satu ini masih mengucapkan kata “Marhaenisme”. Panitia yang tidak mengerti duduk persoalannya terpaksa menambah kekuatan tenaga pengamanan, karena dianggap Bung Kita ini mau memancing persoalan. Ketika dipancing komentarnya, Delegasi yang datang dari Indonesia Timur ini, menyatakan bahwa ia tidak tahu kalau Presidium mau merubah azas GMNI. Yang ia tahu, hanya GMNI itu berkaitan erat dengan Marhaenisme. Ya … ketidaktahuan yang justru telah membuat panik orang lain.

PANITIA/KELOMPOK TEBET RATA-RATA BER-JIMMNY

Entah kenapa kebetulan, atau memang dana surplus, atau mungkin faktor X Panitia/Kelompok Tebet selama acara berlangsung menggunakan kenderaan yang dengan merk yang sama (Suzuki Jimmny) yang masih baru. Tak kurang 7 kenderaan jenis tersebut selalu parkir didepan Grand Hotel. Ketika reporter anda, mencoba mengorek keterangan tentang kenderaan yang unform itu, petugas keamanan yang merupakan Kelompok Pemuda Pasar seacara polos dan lugu menjawab bahwa itu punyanya pak Lukman dan teman-temannya. Penyampaian penjelasan ini kemudian sempat didengar oleh sorang Panitia dari Surabaya, maka untuk selanjutnya sang keamanan diberi peringatan agar tidak memberikan keterangan lagi kepada siapapun juga.

ADA PANITIA DAN ANGGOTA PRESIDIUM MASUK LOKALISASI WTS

Berawal dari perubahan teknik operasi Team Gabungan, yakni semula ditekankan semata-mata untuk memonitor kegiatan yang terjadi didalam Grand Hotel, namun kemudian dirubah karena telah diketahui kalau semua keputusan telah dimatangkan diluar, maka penekanan tugas difokuskan pada usaha untuk mencari tempat-tempat dimana sebetulnya pertemuan itu dilakukan (agaknya tempat itu selalu berpindah-pindah, sebab salahsatu tempat yang berhasil dilacak yakni di Hotel Homan, namun ketika dilakukan penggerebekan, mereka telah pindah). Maka untuk tidak kehilangan titik sasaran, beberapa anggota sengaja disiapkan untuk membuntuti setiap kenderaan yang keluar dari Grand Hotel (yang diperkirakan membawa mereka yang termasuk kategori pengambil keputusan). Salah satu anggota Team Reporter anda kebetulan bersama dalam tugas buntut-membututi ini.

Satu saat kemudian, sebuah Suzuki Jimmny meluncur keluar dari Grand Hotel (kira-kira jam 22.00 WIB), dan untuk tidak kehilangan jejak, Team Pembayang-pun segera pasang aksi diatas Honda GL masing-masing. Namun tak lama kemudian mereka pun kembali dengan rasa geli, sebab diperkirakan semula kenderaan Panitia itu sedang mengangkut sang Pengambil Keputusan untuk rapat diluar lokasi, eehh … tak taunya masuk kedalam salah satu lokalisasi Wanita Tuna Susila yang terkenal di Bandung, “Saritem”. Nampaknya, mungkin karena tegang di dalam Grand Hotel, atau memang lagi kelebihan duit, Sang Panitia dan Presidium itu perlu juga sedikit refreshing, guna mengendorkan syaraf yang sedang tegang, atau memang keputusan diambil dalam Lokalisasi WTS itu biar aman sebab sudah diduga pasti tempat tersebut bebas dari sorotan warga GMNI yang lain.

KETUKAN PALU PENGHAPUSAN MARHAENISME DILANJUTKAN DENGAN ACARA JAIPONGAN

Berbeda dengan kelaziman pada Kongres-Kongres GMNI sebelumnya, dimana setelah pembukaan acara persidangan, secara berangkai dilanjutkan dengan persidangan-persidangan lanjutan sehingga apa yang jadi permasalahan selesai terbahas secara tuntas, maka untuk kali ini tidak demikian halnya. Reporter kami yang bertugas pada pos terdepan (dalam areal Grand Hotel) melaporkan, bahwa setelah acara pokok yang menempati urutan pertama selesai, itu tidak dilanjutkan dengan acara persidangan berikutnya, tetapi diselingi dengan acara Jaipongan semalam suntuk. Perlu diketahui bahwa yang menempati urutan pertama adalah, acara pengetukan palu penggantian azas GMNI. Nampaknya dengan pengetukan palu perubahan azas itu, target pokok kongres ini telah tercapai sehingga perlu dirayakan terlebih dahulu. Lebih lanjut dilaporkan bahwa tidak semua delegasi kelihatan berminat terhadap acara ini, namun sebahagian besar Panitia dan sejumlah Peserta yang jadi aparat Kelompok Tebet, tetap tidak melewatkan acara yang cukup erotis ini, yang berlangsung dalam pengawalan yang cukup ketat juga.

KOMISARIAT-KOMISARIAT GMNI DI JAKARTA RAYA UMUMNYA MENOLAK KEPUTUSAN KONGRES KE-VIII GMNI

Para komisaris dan sejumlah aktivis GMNI yang ada di Jakarta Raya ketika diminta komentarnya tentang Kongres ke-VIII, umumnya menyatakan diri tidak terikat pada keputusan-keputusan Kongres tersebut. Namun mereka juga menyatakan bahwa dengan berhasil terselenggaranya Kongres lewat pemaksaan ini, kami juga tidak menyatakan diri mundur atau demisioner dari segala kegiatan GMNI, dan ini berarti apa yang kami perjuangkan tidak berakhir hanya oleh Kongres ke-VIII itu. Tentang apa yang jadi tindak lanjut perjuangan mereka belum dijelaskan secara nyata. “Tunggu saja dan lihat apa yang akan kami lakukan“, demikian mereka berujar. Tapi dugaan kuat, agaknya mereka sekarang sedang melakukan sosialisasi sikap pada basis-basis organisasi yang di cabang-cabang lain, yang hal ini nampak dari kenyataan cukup banyaknya surat-surat yang berdatangan dari pelbagai basis di cabang-cabang lainnya yang umumnya menyatakan sikap yang sama, dan kemungkinan akan berlanjut dengan pembentukan Lembaga Pusat Koordinasi kegiatan antar cabang dan Komisariat-Komisariat GMNI se-Indonesia. Sementara itu, sejumlah spanduk dan poster yang nadanya menyatakan ketidak-terikatan pada keputusan Kongres ke-VIII juga telah sempat menghiasi Markas GMNI Jaya, Jln. Salemba Raya 73 Jakarta Pusat.*

DAFTAR NAMA-NAMA MEREKA YANG BERKEPENTINGAN DAN TERLIBAT LANGSUNG DALAM PENGGANTIAN AZAS GMNI

Pimpinan Kelompok Inti :

  1. Kartjono; Suko Sudarso; Bondan Gunawan (K.K.B.) d.k.k.;
  2. Soekarton, Soetrisno SH (Birokrasi) CS.

Staf Operasional/Pimpinan Lapangan :

  1. Darjatmo;
  2. Sudarjanto;
  3. Karyanto;
  4. Kristiya Kartika;
  5. Lukman Hakim AS;
  6. Bambang Harianto.
  7. D.K.K.

Pembantu Operasional/Aktivis Wilayah :

  1. Togap Silitonga, d.k.k. (Medan);
  2. Suparlan (Tg.Karang);
  3. Timbul, Rahmat ilahi (Bandung);
  4. Uun Subarna (Garut);
  5. Antonius Wantoro; Baringin Pardede; Weimy Charles Riry; Prayitno (Jakarta);
  6. Harry Fadillah (Semarang);
  7. Bambang Irianto; Soermadji Tjondro Pragolo (Malang);
  8. Heru Darmanto alias Gimo alias Nobon; Raphael Lamiheruharyoso (Surabaya);
  9. Nonot Suryono; Djoko (Surabaya);
  10. Nyoman Wibnanu (Singaraja);
  11. Suhendar (Banjarmasin).

Yang ikut terpengaruh :

  1. Sudirman Kadir (Bogor), d.l.l.

Catatan :

Daftar ini hanya memuat secara garis besar, dan tetap akan dilengkapi pada penerbitan berikutnya, sambil menunggu data-data yang sedang dihimpun Team Reporter.*

*sumber tulisan berjudul “PROYEK PATUNGAN ANTARA KIRI BARU DAN BIROKRASI” yang dipublikasikan dalam buletin GMNI VOX POPULI yang diterbitkan oleh Sekretariat Bersama Kelompok Studi Ilmu Sosial GMNI se-Indonesia.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s