POKOK PIKIRAN TENTANG MARHAENISME

MARHAEN DAN MARHAENIS

Adalah suatu kenjataan sedjarah, bahwa sebagian terbesar dari rakjat Indonesia terdiri dari tani ketjil, pegawai ketjil, pedagang ketjil, pengusaha ketjil, jaitu rakyat miskin, jang hidupnja selalu mengalami kekurangan.

Mereka mempunjai nasib jang sama, jang sehari-harinja selalu terantjam oleh gentjetan dan oleh karena itu mereka termasuk golongan jang malang nasibnja.

Golongan inilah jang dalam lingkungan PNI dinamakan kaum Marhaen. Artinja kaum melarat, kaum jang dimelaratkan oleh kondisi pendjadjahan, oleh suatu Bangsa atas Bangsa lain dengan segala bentuk kolonialisme.

Didalam suasana kolonialisme jang berabad-abad itu, sebagian besar Rakjat Indonesia jang terdiri dari kaum jang melarat dan jang dimiskinkan, j.i. kaum Marhaen, tidak mengalami kemadjuan dan tidak pernah menikmati kebahagiaan.

Dan untuk memadjukan Rakjat/Bangsa Indonesia harus ada perdjoangan peningkatan taraf hidup kaum Marhaen dimana ia berada dan dari golongan apapun.Kemakmuran dan kebahagiaan kaum Marhaen, berarti kemadjuan dan kebahagiaan seluruh Rakjat/Bangsa Indonesia.

Untuk kepentingan ini perlu adanja perdjoangan. Perdjoangan menuju kearah terwudjudnja masjarakay jang sama rata bahagia lahir dan bathin, masjarakat jang didalamnja tidak terdapat penindasan oleh manusia terhadap manusia atau oleh golongan terhadap golongan. Masjarakat itulah yang kita sebut masjarakat Marhaenis, atau masjarakat Pantjasila, masjarakat adil dan makmur jang diridhoi oleh Tuhan Jang MAha Esa.

Dan siapapun jang berdjoang untuk kepentingan tertjapainja tudjuan perdjoangan seperti tsb. diatas, maka ia kita sebut seorang Marhaenis. Dengan lain perkataan, seorang Marhaenis adalah jang berdjoang untuk mentjapai masjarakat Sosialis Pantjasila, jang berarti sekaligus merupakan masjarakat jang bahagia bagi kaum Marhaen dimanapun ia berada dari golongan apapun.

MARHAENISME

Marhaenisme adalah pandangan hidup, artinja Marhaenisme adalah satu azas,satu ideologi,satu faham dan tjara perdjoangan kaum Marhaen dan Marhaenis. Dengan landasan azas dan tjara perdjoangan Marhaenisme, kaum Marhaen dan Marhaenis berdjoang untuk mentjapai masjarakat adil dan makmur, atau masjarakat Marhaenis, atau masjarakat Sosialis Pantjasila.

Marhaenisme seagai azas, sebagai ideologi dan sebagai faham politik, mengandung tiga unsur, ialah :

  1. Ke-Tuhanan Jang Maha Esa;
  2. Sosio-Nasionalisme;
  3. Sosio-Demokrasi.

SOSIO-NASIONALISME

Dalam sedjarah dunia, faham kebangsaan atau Nasionalisme, sering dihinggapi oleh sikap angkara-murka, sifat bentji kepada Bangsa lain, sifat chauvinistis dan agressif. Sifat2 jang demikian achirnja menumbuhkan sikap ingin mendjadjah bangsa lain. Faham itu adalah faham kebangsaan jang diperalat oleh kapitalisme dan imperialisme.

Sosio-Nasionallisme mempunjai watak dan sifat2 jang lain, karena Sosio-Nasionalisme adalah faham kebangsaan jang berdasarkan pada persamaan nasib, faham kebangsaan gotong-rojong, faham kebangsaan jang berdasarkan hidup kemasjarakatan, fama kebangsaan jang berperi-kemanusiaan, faham kebangsaan jang berlandaskan pada keinginan kerdjasama dan tidak untuk menggentjet ayau menghisap.

Sosio-Nasionalisme adalah nasionalisme jang positip-kreaktip, faham kebangsaan jang mentjipta dan memudja.

Sosio berarti kemasjarakatan jang sadar akan kemanusiaan. Dan apabila berbitjara tentang kemasjarakatan dan kemanusiaan, tidak bisa menghindarkan diri dari rasa memudja, jang harus diartikan mengabdi kepada Tuhan Jang Maha Esa. Karena tjelakalah manusia jang tidak silaturachmi antara manusia dengan manusia dan antara manusia dengan Tuhan, oleh karena itulah, maka Sosio-Nasionalisme dengan sendirinja mengandung unsur Ke-Tuhanan Jang Maha Esa.

Sosio-Nasionalisme atau faham kebangsaan, dalam lingkungan Bangsa sendiri, Bangsa Indonesia, harus bergotong-rojong, dan antara Bangsa Indonesia dengan lain2 Bangsa djuga harus bekerdja sama dengan penegrtian setingkat dan sederajat. Dalam pengertian ini terkandung sifat ethnis, tjinta kasih sesama machluk, sehingga tiada hasrat menguasai dan dikuasai.

Dengan demikian, maka Sosio-Nasionalisme selalu berwatak anti imperialisme dan anti kolonialisme dalam segala bentuk dan manifestasinja.

SOSIO-DEMOKRASI

Sosio-Demokrasi adalah demokrasi lengkap, atau demokrasi komplit. Artinja demokrasi jang mentjakup dan meliputi : demokrasi politik, demokrasi ekonomi, demokrasi sosial dan demokrasi kebudajaan.

Demokrasi politik mengakui hak setiap warga negara, hak rakjat untuk mengatur pemerintahan, menentukan haluan dan susunan negara.

Demokrasi ekonomi berarti mengakui hak hidup setap warga negara setjara luas dan baik dalam bidang2 perekonomian.Demokrasi sosial mengakui hak setiap warga negara, atau setiap orang untuk mendapat penghargaan jang sama seagai machluk sosial. Demokrasi sosial oleh karenja mengakui hak setiap orang untuk mentjapai tingkat kemadjuan, tingkat kedudukan sosial setinggi-tingginja dalam segala lapangan dan bidang, sesuai dengan bakat dan kemampuannja.

Demokrasi kebudajaan mengakui hak setiap warga negara dan setipa orang untuk mengembangkan kebudajaan dan menikmati keindahan dan manfaat kebudajaan.

Dalam Sosio-Demokrasi djelas dikehendaki adanja persamaan hak bagi setiap orang, bagi setiap manusia sebagai sesama ummat Tuhan jang Maha Esa.

Dengan demikian djelas, bahwa dalam Sosio-Demokrasi djuga tertjakup unsur Ke-Tuhanan Jang Maha Esa.

Sosio-Demokrasi menghendaki :

  1. Dalam lapangan politik susunan Pemerintahan berdasarkan kedaulatan Rakjat, bentuk Pemerintahan jang sesuai dengan kehendak suara Rakjat dan bentuk negara hukum, Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  2. Dalam bidang kemasjarakatan, satu susunan masjarakat jang berdasarkan gotong-rojong, atau masjarakat Sosialis Pantjasila.

Oleh karena itu Sosio-Demokrasi menolak setiap matjam kapitalisme, termasuk Staats-Kapitalisme dan berdjoang  untuk mewudjutkan kehidupan koperatip.

Sosio-Demokrasi memberi kemungkinan berkembangnja usaha swasta, dalam pengertian tidak menimbulkan akibat hak milik atas alat2 produksi menjebabkan adanja penindasan dan penghisapan.

Kesimpulannja : Marhaenisme adalah satu ideologi, atau faham Sosialisme, terdiri dari 3 unsur : Ke-Tuhanan Jang Maha Esa, Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi.

Dengan perkatan lain : Marhaenisme adalah Sosialisme Pantjasila.

MARHAENISME, MARXISME DAN PANTJASILA

Marxisme adalah satu ideologi jang berlandaskan pada karya dan hasil pemikiran Marx. Ada beberapa basic ideas, prinsipalia jang sangat penting dari Marxisme sebagai pentjerminan kemurnian faham atau ideologi tsb. Diantara sekian banjak prinsipalia dan essensialia jang menondjol ialah :

  1. Marxisme tidak mengenal Nasionalisme atau faham kebangsaan, oleh karena sifatnja jang internasionalistis-kosmopolitan.
  2. Marxisme menganut teori, bahwa kehidupan manusia dan tjorak masjarakat sepenuhnja dipengaruhi dan tergantung pada kehidupan kebendaan, jang terkenal dengan teori historis-materialisme.
  3. Marxisme tidak mau tau mengenai kekuatan absolut, jaitu Tuhan Jang Maha Esa, sehingga akibatnja ia anti Tuhan dan anti Agama.
  4. Marxisme dalam perdjoangannja menudju kearah  terwudjutnja susunan masjarakat komunis, dan menggunakan sistem diktatur-proletariat.
  5. Marxisme dengan proletar dan teori meerwaarde-nja dalam perdjoangan mewudjutkan  tjita2nja menganut teori perdjoangan kelas, atau klassenstijd.

Tidak ada satupun dari basic ideas atau prinsip dari Marxisme seperti tersebut diatas jang dianut oleh Marhaenisme. Disamping ditolak, malahan bertentangan dengan Marhaenisme.

Marhaenisme djelas menganut faham kebangsaan, ialah kebangsaan-kemasjarakatan, atau Sosio-Nasionalisme. Marhaenisme menghidup-hidupkan, memlihara dan mempertebal
semangat kebangsaan.

Sosio-Nasionalisme mengakui bahwa Bangsa2 adalah segolongan manusia jang tidak terpisah dengan golongan lain, malahan harus hidup bersama dengan golongan2 itu. Oleh karena itu, dalam hubungan internasional, Sosio-Nasionalisme mengakui kewadjiban Bangsa2 untuk berkerdja sama menjusun masjarakat Bangsa2 didinuia, bebas dari dominasi, pendjadjahan, penindasan, baik politis, ekonomis maupun kulturil. Dengan perkataan lain, kosmopolitanisme dan internasionalisme jang menghapuskan
nasionalisme adalah bertentangan dengan Marhaenisme.

Marhaenisme tidak dapat sepenuhnja membernarkan dalil atau terori bahwa perkembangan kehidupan manusia dan tjorak
masjarakat sepenuhnja dipengaruhi dan tergantung pada kebendaan. Tidak dapat menerima teori bahwa tjorak masjarakat sepenuhnja dipengaruhi dan tergantung pada keadaan
ekonomi.

Marhaenisme berpendapat, bahwa bukan hanja kondisi ekonomi, akan tetapi djuga kondisi bathin menentukan tjorak dan perkembangan masjarakat.

Baik kekuatan rochani, ataupun tjita2 maupun kekuatan djasmaniah atau ekonomi, kedu-duanja sama2 berpengaruh pada gerak tjorak dan perkembangan masjarakat.

Marhaenisme mengakui sepenuhnja adanja kekuatan absolut (Absolute Macht) jang ada pada Tuhan Jang Maha Esa. Baik Sosio-Nasionalisme maupun Sosio-Demokrasi, kedua-duanja diresapi sinar hikmah Ke-Tuhanan Jang Maha Esa. Dengan demikian djelas, Marhaenisme adalah ber-Tuhan.

Marhaenisme menganut faham demokrasi, jang dalam hal ini adalah Sosio-Demokrasi. Demokrasi lengkap atau demokrasi komplit, jang mentjakup demokrasi politik, demokrasi ekonomi, demokrasi sosial dan demokrasi kebudajaan.

Faham Sosio-Demokrasi menghendaki susunan pergaulan hidup sama rata dan sama bahagia, sehingga dengan demikian menolak setiap matjam/bentuk diktatur, termasuk diktatur proletariat. Kaum Marhaen bukan hanja kaum proletar seperti jang dikatakan oleh kaum Marxis ialah kaum pendjual tenaga, bukan hanja kaum buruh jang mendjual tenaganja kepada kaum madjikan.

Kaum Marhaen adalah keseluruhan Rakjat Indonesia dimanapun berada dan dari golongan manapun jang dimelaratkan oleh kolonialisme dan kapitalisme. Dengan demikian maka didalam Marhaenisme tidak dikenal satu matjam kelas, dalam hal ini kelas proletar jang tertindas, jang selalu berlawanan dan berhadapan dengan kaum penindas, sehingga dengan demikian Marhaenisme tidak menganut sistem perdjoangan kelas seperti jang diadjarkan oleh Marxisme.

Perdjoangan Rakjat Indonesia untuk mentjapai tija2nja tidak hanja dilakukan oleh satu golongan sadja, akan tetapi oleh segenap potensi kaum Marhaen dan Marhaenis, jang terdiri dari berbagai matjam golongan. Perdjoangan menghantjurkan kolonialisme, dilaksanakan oleh segenap kekuatan Rakjat. Oleh karena itulah teori perdjoangan kelas, atau klassenstrijd jang hanya mengenal perdjoangan kelas proletar sebagai kelas jang tertindas, untuk menghantjurkan kelas penindas tidak berlaku bagi Marhaenisme.

Dala masa pendjadjahan seluruh kekuatan Rakjat berdjoang menghantjurkan kolonialisme. Dan setelah mentjapai kemerdekaan, maka dialam merdeka ini, dengan tjara dan tjorak lain dari pada didjaman kolonial melandjutkan perdjoangan membina dan mengisi kemerdekaan sesuai dengan tjita2 jang terkandung didalam Pantjasila.

Dari kenjataan2 dan perbandingan seperti diatas, maka djelas antara Marhaenisme dan Marxisme terdapat perbedaan2 jang prinsipil dan essensill.

Basic ideas, prinsipilia dan essensialia adjaran Marxisme bukan sadja tidak berlaku bagi Marhaenisme, akan tetapi bahkan berlawanan.

Dengan demikian maka djelas, defenisi, interpretasi atau pengertian bahwa Marhaenisme adalah “Marxisme jang ditrapkan di Indonesia”, adalah satu kekeliruan jang besar.

Itulah sebabnja Sidang MPP-PNI jang ke-I pada bulan Nopember 1966 setjara resmi menolak “Deklarasi Marhaenis” dan diganti dengan “Yudya Pratidina Marhaenis”, jang isinja tegas menjatakan, bahwa Marhaenisme-adalah : Ke-Tuhanan Jang Maha Esa, Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi, jang pada hakekatnja sama dengan Pantjasila.

Memang ditindjau dari segi sedjarah, Marhaenisme lebih tua daripada Pantjasila. Sedjak lahirnja, Marhainisme mengandung unsur2 Ke-Tuhanan Jang Maha Esa, Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi. Setjara historis faxtuil dalam pidato Lahirnja Pantjasila pada tanggal 1 Djuni 1945 tertjakup pula Ke-Tuhanan Jang Maha Esa, Sosio-Nasionalisme dan Sosia-Demokrasi. Dengan demikian tidak salah kiranja, apabila kita katakan bahwa Marhaenisme adalah identik dengan Pantjasila.

MASJARAKAT MARHAENIS

Dari ketegasan2 seperti diatas maka djelaslah, bahwa masjarakat Marhaenis adalah masjarakat Sosialis-Pantjasila, masjarakat adil dan makmur, jang tidak membenarkan adanja tindas menindas antar manusia atau antar golongan.

Dengan perkataan lain, pada hahekatnja masjarakat Marhaenis atau masjarakat Sosialis-Pantjasila adalah suatu perwudjudan setjara konsekwen dari Undang-Undang Dasar 1945; mulai dari Mukadimah samapi dengan Batang Tubuhnja.*

*sumbangan pikiran Prof. Dr. Sunawar Sukowati S.H., Pokok-Pokok Pikiran Mengenai Essensialia Marhenisme, diperbanjak oleh jajasan nasional “Pandji Mas”, 1972

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s