ESSENSIALIA MARHAENISME

Sudah barang pasti dalam usaha kita merumuskan azas perdjoangan Partai, maka tidak bisa lain harus ber-orientasi pada naluri Bangsa kita sendiri, dan hal itu tidak terlepas dari “cultural background” daripada masjarakat luas, jang hidup dan berkembang didalam masjarakat di Tanah Air Indonesia.

Dengan demikian, maka irama Perdjoangan Partai jang didasarkan pada azas perdjoangan itu tiada lain daripada pemantjaran gelora-djiwa jang hidup dan berkembang didalam masjarakat dari masa ke masa.

Itu sebabnja, sumbangan pemikiran mengenai “Essensialia Marhaenisme” sedjauh mungkin dikaitkan dengan nilai sedjarah, nilai2 ekonomi, sosial dan kebudajaan jang satu dan lainnya dihubungkan dengan perkembangan hubungan manusia2 pribadi atau perseorangan dengan masjarakatnja dalam suatu lingkungan tata-pergaulan hidup.

Disamping itu hendaklah tidak dilupakan pula adanja nilai2 moral, aestetika, jang kesemunja tertuang didalam suatu pandangan hidup untuk kemudian ditrapkan dengan tjara-tjara perdjoangan, Marhaenis. Tjara2 perdjoangan itu dapat dilafazkan atau diterdjemahkan dalam kata2 perdjoangan politik dalam arti luas.

Dapat diketengahkan, bahwa terdapat sesuatu jang universiel pada setiap individu manusia, jaitu “de zucht tot zelfbehoud”. Djuga terdapat naluri pada setiap individu manusia untuk hidup bahagia.

Namun, upaja untuk mentjapai hidup bahagia itu adalah berbeda-beda, apalagi hidup berbahagia bagi manusia selaku anggota masjarakat. Berbeda-beda menurut pandangan hidup masjarakat jang bersangkutan, sedangkan pandangan hidup (way of life) itupun tiada lain daripada pemantjaran keadaan lingkungan alamiah, jang juga merupakan lingkungan hidup masjarakat2 jang bersangkutan.

Perlu kiranja diuraikan, bahwa masjarakat Indonesia dalam mentjapai kebahagiaan sosial (social happiness) jang mahapenting ialah adanja pandangan hidup Bangsa kita, serta kemudian adanja tehnik pelaksanaannja. Pandangan hidup Bangsa Indonesia sebagaimana terdapat dalam perbagai dokumen bersedjarah menundjukkan adanja azas kekeluargaan jang diembani oleh rasa tjinta-kasih antara sesamanja.

Didalam Hukum Adat kita – jang merupakan pentjerminan daripada way of life kita – banjak didjumpai lembaga2 hukum jang menondjolkan kesatuan tetapi tidak melenjapkan pribadi. Kepentingan kesatuan atau masjarakat harus berimbang dengan kepentingan pribadi perseorangan.

Nenek-mojang kita ratusan tahun jang lalu telah mengadjarkan kepada anak-tjutjunja bahwa manusia itu mempunjai hak2 dan kewadjiban kepada diri sendiri, kepada keluarga, kepada negara dan kepada Tuhan.

Itulah sebabnja bagi Bangsa Indonesia kebahagiaan sosial (social happiness) itu ialah bila telah tertjapai harmoni jang mesra antara individu dengan “group”nja dan  antara “group”nja dengan kosmos.

Dengan singkat dapat dikatakan, bahwa manusia Indonesia itu bukanlah manusia individualis melainkan selalu berada dalam hubungannja jang harmonis ditengah-tengah masjarakat.

Sifat kekeluargaan jang merupakan sendi kehidupan Rakjat Indonesia menghalang-halangi ketjendrungan untuk menggajang sesamanja dalam satu pergaulan hidup. Sesungguhnja bukanlah sifat Bangsa Indonesia untuk merugikan sesamanja dengan tudjuan menguntungkan diri sendiri.

Bahwa sifat2 luhur ini disana-sini tidak lagi menondjol, adalah akibat pengaruh individualisme dari fihak kaum pendjadjah pada masa lampau, atau oleh adanja pengaruh pandangan hidup bangsa dan masjarakat asing jang menjusup kedalam masjarakat Indonesia, hal jang dimungkinkan oleh posisi geografis Indonesia jang terletak pada “kruispositie” dimana terdapat hubungan antar-masjarakat atau antar negara jang kompleks sifatnja.

Namun kewadjiban kita untuk memelihara naluri bangsa dan kepribadian bangsa jang tentunja harus diperdjoangkan dengan menggunakan azas perdjoangan dan pandangan hidup Bangsa itu sendiri.

Bahwa naluri Bangsa dan pandangan hidup Bangsa dengan identitasnja jang chas berkepribadian Indonesia bukanlah suatu illusi, dapat dilihat dari praktek ketata-negaraan Indonesia pada zaman2 lampau, a.l. misalnja hal jang dapat dilihat pada “Negarakertagama”.

Pada “Negarakartagama” telah terdapat suatu tat-pergaulan hidup bermasjarakat dan bernegara, a.l. jang dapat diekmukakan sebagai berikut :

  1. Telah terdapat didalam praktek ketata-negaraan itu prinsip idealisme sedjadjar dengan pragantisme. Terdapat kata2 : “Dewa Batara, lebih chajal dari jang chajal, tapi tampak diatas tanah”, sebagai manifestasi daripada perpaduan antara idealisme dan pragmatisme.
  2. Telah terdapat suatu hukum tata-negara dimana negara mempunjai suatu susunan organisasi dengan pembagian tugas jang djelas daripada setiap penguasa dalam lembaga-lembaga kenegaraan, serta adanja komunikasi antara penguasa sesamanja dan dengan rakjat banjak.
  3. Terdapatnja suatu disiplin nasional terbukti dari tjinta dan taatnja para pamong dan perwira serta rakjat kepada Radja (penguasa) dan sebaliknja semua aparatur ini adalah “tulang punggung pradja”, jang membuktikan adanja suatu kesatuan organisasi negara.
  4. Adanja kerukunan nasional jang terlihat daripada perpaduan antara “bakti kepada radja, tjinta sesama, menggembirakan negara”, tetapi djuga dasar2 fungsi negara sebagai negara kesedjahteraan, dimana terdapat perumusan jang menggambarkan betapa radja “menolak duka simurba”. Bahwa negara adalah pelindung bagi rakjat terbukti dari adanja “prabu pembunuh musuh”, lagipula kekuasaan adalah “pelindung simiskin, radja adiradja didunia”.
  5. Adanja “Rule of Law” didalam praktek ketata-negaraan itu djelas terlihat dari perumusan “bidjaksana mengemudikan perdata tinggi dan segala kerdja” dan lagi pula tergambarkan oleh kata2 “… Baginda makin keras berusaha untuk dapat bertindak dengan bidjak… Dalam pengadilan tak sembarangan, tapi tetap terikat undang2… Adil segala putusan jang diambil, sehingga semua merasa puas …”.
  6. Didalam praktek ketata-negaraan itu, betapa negara sendiri tidak mengabaikan faktor-faktor relegious tergambarkan oleh suasana, dimana setiap kali radja melakukan pemerintahan terlebih dahulu mendengar nasihat para pendeta, dan setiap perintah jang dikeluarkan selalu disaksikan oleh pedjabat untuk itu, membuktikan bahwa Radja selaku penguasa tidaklah mengeluarkan perintah dengan sekehendak hatinja.
  7. Pandangan hidup Bangsa pada waktu itu benar2 merupakan pemantjaran daripada lingkungan alam sekitarnja, sehingga seni ketata-pradjaan-pun tidak luput dari pengaruh keindahan alam sekitarnja. Itu sebabnja faktor2 aestetika djuga terpantjar dalam tingkah laku pemerintahan, bahkan dalam upatjara2 kenegaraan. Suasana hidup alam sekitarnja merupakan sumber idea bagi penguasa untuk menggariskan kebidjaksanaan.
  8. Kebebasan beragama terpantjarkan oleh adanja “Pandji lain paham agama”, sedangkan budget negara dibitjarakan oleh para pembantunya dihadapan radja sendiri, menggambarkan adanja perentjanaan jang kongkrit.
  9. Hubungan perseorangan dengan “group”nja dalam lingkungan suatu organisasi negara telah terlihat. Tetapi disamping itu, hubungan “group”nja selaku organisasi negara dengan “kosmos” djuga terdapat dalam praktek pergaulan hidup bernegara pada zamanja nenek-mojang kita. Disamping terdapat negara jang dilindungi, maka terdapat pula negara2 “sahabat tetap”, seperti dilukiskan dengan “Tjampa Kambodja serta Jawana” d.l.l.

Djelas kiranja, bahwa sesuai dengan kepribadian Indonesia, didalam praktek ketata-negaraan pada masa berabad-abad sebelum datangnja pendjadjahan asing ternjata telah terlihat implementasi pelaksanaan daripada pandangan hidup Bangsa itu sendiri, ditengah-tengah pergaulan hidup Internasional.

Sudah barangtentu, didalam merumuskan azas perdjoangan Partai, maka facet2 jang telah terdapat didalam masjarakat Bangsa kita pada waktu itu, harus didjadikan bahan2, sehingga dengan demikian azas perdjoangan itu benar2 bersumber pada naluri Bangsa, jang tidak terlepas daripada cultural background jang benar2 hidup dan berkembang dari zaman didalam masjarakat kita.

Perlu pula kiranja didalam menindjau sifat hakekat Bangsa Indonesia itu, diambil bahan perbandingan daripada sifat hakekat masjarakat atau Bangsa lainnja, masing2 jang merupakan lingkungan jang melahirkan pandangan hidup bangsa jang bersangkutan.

Diatas telah dikemukakan, bahwa sifat hakekat Bangsa Indonesia adalah terdapatnja keharmonisan jang mesra antara individu dengan “group”nja dan antara “group”nja dengan kosmos. Dan ini adalah pula sebagai suatu tudjuan dala mewudjudkan kebahagiaan sosial, disamping iapun merupakan pola pemikiran. Difihak lain disini dapat dikemukakan adanja pola2 jang ektreem jang satu sama lain berhadapan, jaitu pola individualis jang manifestasinja kita lihat pada tata-pergaulan hidup liberalis sebagaimana pada umumnja terdapat pada dunia barat. Bila hal ini dibandingkan dengan pola dalam masjarakat kita, sudah barang tentu terdapat perbedaan jang sangat menjolok. Kedua pola jang berhadapan satu sama lain itu adalah manifestasi tjara  kehidupan dalam masjarakat lain jang mengalami keadaan iklim alamiah jang berat (didaerah winter dlsb.), hingga dalam taraf primitif pada waktu itu kepentingan pribadi menondjol sehingga timbul filosofi “omnes contra omnes” jang perkembangannja mendjadi “bellum omnium contra omnes”.

Dan terhadap filosofi sematjam itulah timbul pola pemikiran jang ingin mengachiri keadaan tersebut.Ingin saja menggaris bawahi apa jang pernah diuraikan oleh pak Sanusi Hardjadinata selaku ketua DPA Partai di Djawa Barat pada tahun 1970, jang mengatakan bahwa Marxisme adalah Orde Baru dalam rangka pola pemikiran jang diuraikan diatas. Dalam frame pola pemikiran sedemikianlah timbulnja extreemnitas, j.i. individualisme setjara totaal, sehingga seorang sardjana Leon Dugui dalam usahamemberantas pandangan hidup sedemikian sampai2 mengatakan bahwa hak subjektif itu tidak ada, jang ada ialah hak2 masjarakat. Ini mengandung arti bahwa individualitas2 ditiadakan, sehingga manusia individu hanja merupakan numuric jang tidak mengandung arti, sebagai djomplangan jang mutlak dari individualisme jang berlebih-lebihan. Kalau melihat demikian, falsafah omnes contra omnes – everybody against everybody atau a group against a group -, meradjai pola sedemikian.

Namun demikian dengan adanja proses masjarakat, sudah ada perobahan2 pada masjarakat jang berdasarkan pola sedemikian. Jang djelas bagi Indonesia, individu2, group2 itu menurut hakekatnja sebenarnja satu sama lain tidak berdiri berhadapan, tidak berpribahasa : “sopo aku sopo kowe”, melainkan menurut nalurinja individu dan “group” itu berdiri berdampingan; jang manifestasinja terdapat dalam semangat gotong-rojong. Dalam masjarakat Indonesia sedjak berabad-abad timbul pengertian bahwa kita meletakkan kepentingan umum diatas kepentingan golongan atau kepentingan nasional diatas kepentingan golongan. Ini didasarkan pada collectivisme.

Seperti jang kita lihat pada praktek ketata-negaraan Negarakertagama, dimana penguasa mempunjai komunikasi jang teratur dengan aparaturnja dan bahkan dengan rakjat banjak, sesuatu jang mengandung arti bahwa didalam praktek sedemikian itu terdapat adanja motif2 pola pemikiran kerakjatan jang didalam implementasi tentulah dapat ditingkatkan dalam bentuk collectivisme jang diatur oleh organisasi masjarakat jang disebut Negara.

Sudah barangtentu dapat tidaknja terlaksana suatu collectivisme, sangat bergantung pula pada dapat tidaknja terdjamin hak2 azasi perorangan didalam pergaulan hidup sedemikian itu, karena suatu collectivisme adalah pula perpaduan didalam praktek daripada kesdaaran hak2 azasi dan kesadaran kewadjiban2 azasi. Kalau perlu dalam mempertahankan hak2 itu bahkan biar mati sekalipun, sebagaimana jang terkandung dalam peribahasa Djawa jang mengatakan “sedumu batuk senjari bumi perlu ditohi pati” – hal jang merupakan manifestasi adanja djuga individualisme dalam masjarakat (kita) jang didasarkan pada adanja pribadi, hal jang perlu dipertahankan dala mkehidupan brmasjarakat di Indonesia.

Konsekwensi daripada pola pemikiran sedemikian itu adalah, bahwa didalam hidup perekonomian djuga – dalam mewudjudkan Social happines tersebut – seorang anggota masjarakat mendapatkan penghidupannja dengan ber-karya dan ber-kerdja setjara kooperatif, sehingga bukan individualisme-materialis jang haus rakus akan harta-benda bagi kepentingan hidupnja sendiri.

Karena setiap anggota masjarakat berkerdja untuk kemakmuran hidup seluruh anggota masjarakat, menjebabkan harus terdapat adanja keseimbangan antara individu-masjarakat-penguasa. Didalam tata-pergaulan sedemikian itu, tidak boleh tidak harus terdjamin setjara berbarengan publik recht dan privaat recht, dalam arti terdapat keseimbangan jang harmonis.

Difihak lain, dalam mewudjudkan adanja keseimbangan jang harmonis dalam hubungan antara individu-masjarakat-penguasa tersebut, sudah barang tentu harus terdjamin adanja pola distribusi pertanggung djawaban dari semua unsur tersebut, baik pertanggung-djawaban terhadap Negara dan Bangsa maupun terhadap Tuhan.

Pengertian Negara dan Bangsa disini ialah djuga dalam hubungannja dengan suatu kontiniutas sedjarah, sehingga iapun harus merupakan pertanggung-djawaban terhadap generasi penerus.

Didalam merumuskan azas perdjoangan – azas partai – maka jang perlu diperhatikan ialah :

  • Sumber idee dan spirit kearah mensatu-padukan serta menggembleng semua tjita2 dan semua dinamik perdjoangan patriotik Bangsa Indonesia, hidup dari abad ke abad dan jang tumbuh bersebar diseluruh Nusantara;
  • Gelora-djiwa perdjoangan Bangsa Indonesia jang timbul karena menderita pahit getirnja kesengsaraan lahir dan bathin sebagai akibat pendjadjahan atas Bangsa Indonesia selama lebih dari 3,5 abad lamanja;
  • Adanja kekuatan hidup, jaitu kekuatan idee dan kekuatan materi jang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnja karena adanja pengaruh timbal-balik antara kedua kekuatan tersebut;
  • Adanja kekuatan2 disamping kelemahan2 didalam pribadi2 setiap manusia;
  • Adanja suatu masjarakat Indonesia jang telah berkembang berabad-abad lamanja dan jang timbul dari dinamik jang tumbuh dari keseluruhan segala kekuatan lahir dan bathin, dari keseluruhan segala kekuatan materil dan spirituil;
  • Adanja suatu masjarakat jang mempunyai segala keinginan untuk mentjapai hidup senang dan tentram didunia ini, jaitu hidup bahagia lahir dan bathin.

Namun, gerak-gerik manusia2 itu sebagai masjarakat dan Bangsa tidak pula terpisahkan dari pemberian responce  terhadap perkembangan alam sekitarnja, sehingga demikian Marhaenisme haruslah merupakan tuntunan kearah mentjapai keseimbangan jang harmonis antara hidup lahir dan hidup bathin, menudju kesempurnaan hidup seseorang dan hidup kemasjarakatan ialah masjarakat jang adil dan makmur dan tata-tenteram, sebagaimana dasar2nja telah terdapat didalam tingkah-laku praktek ketata-negaraan cq. pergaulan hidup bermasjarakat dan bernegara.

Didalam perumusan azas Partai – Marhaenisme – harus terkandung pula pengertian, bahwa didalamnja semua getaran hidup dan irama zaman jang berkembang dari masa kemasa diolah dan disalurkan kearah perikehidupan manusia jang sewadjarnja.

Sehingga tertjakup didalam perumusan tersebut, betapa seorang Marhaenis sebagai manusia budaja, sebagai filosof, sebagai moralis, sebagai aestetikus, sebagai politikus, sebagai Anggota Masjarakat dan sebagai Ummat Manusia.

Kesemuanja itu dengan segala unsur2 maupun segi2nja, merupakan suatu keseluruhan didalam suatu azas jang disebut dengan Marhaenisme.

Dengan mengemukakan tentang uraian mengenai latar-belakang “Essensialia Marhaaenisme”, kiranja perumusan Marhaenisme diperkaja lagi dengan bahan2 jang kesemuanja digali dari suatu perkembangan hidup dari masjarakat kita sendiri.

Sebagai suatu azas, sebagai suatu adjaran, dengan demikian itu Marhaenisme akan dan harus berkembang, sesuai dengan perkembangan masjarakat itu sendiri.*

*sumbangan pikiran Prof. Dr. Sunawar Sukowati S.H., Pokok-Pokok Pikiran Mengenai Essensialia Marhenisme, dperbanjak oleh jajasan nasional “Pandji Mas”, 1972

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s